Rabu, 24 Juni 2009

Etika dan Tanggung Jawab Ilmuan dalam Menetapkan suatu Ilmu

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang

Manusia sebagai makhluk yang berakal budi tidak henti-hentinya mengembangkan pengetahuannya. Sehingga ilmu pengetahuan berkembang sangat cepat dan tidak terbendung. Luaran ilmu pengetahuan yang perkembangannya begitu pesat adalah teknologi, seperti tampak dalam teknologi persenjataan, komputer informasi, kedokteran, biologi dan pangan.

Dampak positif dari kemajuan sains dan teknologi sangat besar yang telah kita rasakan setiap hari. Kemajuan yang paling menonjol adalah bidang teknologi informasi. Dengan kemajuan teknologi informasi seperti internet, komunikasi antara manusia di dunia ini menjadi sangat cepat, tepat dan transparan. Dengan kemajuan itu semua, dunia yang tadinya terasa luas dan besar, kini terasa kecil karena jarak tidak lagi sangat menentukan. Apa yang terjadi di suatu belahan bumi akan diketahui di tempat lain sehingga hampir semua kejadian dapat diketahui dari tempat manapun. Penemuan dan kemajuan sains dan teknologi oleh para ahli di suatu negara dengan cepat dapat diketahui oleh para ahli dari negara lain sehingga hasilnya cepat dapat digunakan oleh banyak orang. Kemajuan sains dan teknologi juga telah mengubah hidup manusia. Berbagai kemajuan itu telah memungkinkan manusia mampu memecahkan hamper semua persoalan mereka

Akan tetapi, di sisi yang lain kita melihat bahwa berbagai kemajuan tersebut juga membawa dampak negatif bagi kehidupan manusia seperti lingkungan hidup yang tidak nyaman, ketidakadilan dan bahkan penghancuran kelompok manusia. Dalam bidang biologi misalnya, kalangan ahli biologi kini mampu mengembangkan apa yang disebut sebagai cloning yang bisa diterapkan pada tumbuhan, hewan, dan sangat mungkin juga pada manusia. Dengan rekayasa cloning ini, para ahli memang dapat menciptakan mahluk baru tanpa melalui pembiakan sebagaimana lazimnya. Termasuk dalam menciptakan organ manusia yang diperlukan untuk memperbaiki atau memperbarui organ yang rusak. Namun masalahnya tentu akan lain, jika praktek cloning itu dilakukan untuk menciptakan manusia baru. Keinginan untuk menciptakan manusia tanpa melalui perkawinan seperti ini, bahkan sudah memicu munculnya pro-kontra diantara para ahli yang mendukung dan yang menentangnya. Bila tidak disikapi secara kritis, praktek cloning manusia itu, bisa melahirkan dampak negatif dalam kehidupan manusia sendiri.

Dampak terburuk yang bisa terjadi bila praktek cloning manusia itu dibiarkan adalah kemungkinan hilangnya kesadaran bahwa mereka adalah mahluk ciptaan Tuhan. Kenyataan bahwa mereka bisa menciptakan segalanya dengan cloning, bisa jadi justru akan membuat mereka melupakan Sang Pencipta sendiri.

Kemajuan ilmu pengetahuan tersebut bila tidak disertai dengan nilai etika akan menghancurkan hidup manusia sendiri seperti terbukti dengan perang Irak, pemanasan global, daya tahan manusia yang semakin rendah, kemiskinan sebagian penduduk dunia, makin cepat habisnya sumber alam, rusaknya ekologi, dan ketidakadilan.

Tidak menutup kemungkinan, sains dan teknologi akan berkembang lebih besar seiring perubahan zaman. Seorang ilmuan akan menemukan suatu inovasi dan penemuan baru sehingga sesuatu yang dirasa tidak mungkin pada zaman dulu, bisa menjadi mungkin terjadi. Hal tersebut dapat merubah budaya, ideologi dan kebiasaan masyrakat dunia.

Dari beberapa penjelasan di atas, pertanyaan yang secara etis dan kritis harus diajukan adalah, apakah seorang ilmuan dapat serta merta mempublikasikan ilmu pengetahuan dan teknologi yang ia temukan kepada khalayak umum? Nilai kemanusiaan sebagai salah satu nilai etika perlu diperhatikan dalam masalah ini. Dari berbagai pertanyaan itulah dasar makalah ini dibuat.

B. Permasalahan

Dari paparan di atas dapat diidentifikasikan beberapa hal yakni :

1. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang sangat pesat.

2. Perkembangan sains dan teknologi memiliki dampak positif dan negatif yang begitu signifikan

3. Tidak menutup kemungkinan, sains dan teknologi akan berkembang lebih besar seiring perubahan zaman

Setelah melihat masalah di atas, rumusan permasalahannya adalah “apakah seorang ilmuan dapat serta merta mempublikasikan ilmu pengetahuan dan teknologi yang ia temukan kepada khalayak umum?”.

Kemudian masalah muncul adalah apakah seorang ilmuwan yang menemukan sesuatu yang menurut dia berbahaya bagi kemanusiaan maka apa yang harus dia lakukan? Apakah dia menyembunyikan penemuan tersebut sebab dia merasa bahwa penemuan itu banyak menimbulkan kejahatan dibandingkan dengan kebaikan? Ataukah dia akan bersifat netral dan menyerahkannya kepada moral kemanusiaan untuk menentukan penggunaanya?

C. Tujuan

Tujuan dari penulisan makalah ini adalah :

1. Mengetahui tanggung jawab dan etika seorang ilmuan

2. Mengetahui batasan-batasan seorang ilmuan dalam mengembangkan keilmuannya.

BAB II

PEMBAHASAN

A. Ilmu dan nilai

Ilmu dapat berkembang dengan pesat menunjukkan adanya proses yang tidak terpisahkan dalam perkembangannya dengan nilai-nilai hidup. Walaupun ada anggapan bahwa ilmu harus bebas nilai, yaitu dalam setiap kegiatan ilmiah selalu didasarkan pada hakikat ilmu itu sendiri. Anggapan itu menyatakan bahwa ilmu menolak campur tangan faktor eksternal yang tidak secara hakiki menentukan ilmu itu sendiri, yaitu ilmu harus bebas dari pengandaian, pengaruh campur tangan politis, ideologi, agama dan budaya, perlunya kebebasan usaha ilmiah agar otonomi ilmu terjamin, dan pertimbangan etis menghambat kemajuan ilmu.

Pada kenyataannya, ilmu bebas nilai dan harus menjadi nilai yang relevan, dan dalam aktifitasnya terpengaruh oleh kepentingan tertentu. Nilai-nilai hidup harus diimplikasikan oleh bagian-bagian praktis ilmu jika praktiknya mengandung tujuan yang rasional. Dapat dipahami bahwa mengingat di satu pihak objektifitas merupakan ciri mutlak ilmu, sedang dilain pihak subjek yang mengembangkan ilmu dihadapkan pada nilai-nilai yang ikut menentukan pemilihan atas masalah dan kesimpulan yang dibuatnya.

Setiap kegiatan teoritis ilmu yang melibatkan pola subjek-subjek selalu mengandung kepentingan tertentu. Kepentingan itu bekerja pada tiga bidang, yaitu pekerjaan yang merupakan kepentingan ilmu pengetahuan alam, bahasa yang merupakan kepentingan ilmu sejarah dan hermeneutika, dan otoritas yang merupakan kepentingan ilmu sosial.

Dengan bahasan diatas menjawab pertanyaan mengapa ilmu tidak dapat dipisahkan dengan nilai-nilai hidup. Ditegaskan pula bahwa dalam mempelajari ilmu seperti halnya filsafat, ada tiga pendekatan yang berkaitan dengan kaidah moral atau nilai-nilai hidup manusia, yaitu:

1. Pendekatan Ontologis

Ontologi adalah cabang filsafat yang membicarakan tentang yang ada. Dalam kaitan dengan ilmu, landasan ontologis mempertanyakan tentang objek yang ditelaah oleh ilmu. Secara ontologis ilmu membatasi lingkup penelaahan keilmuannya hanya pada daerah yang berada dalam jangkauan pengalaman manusia.

Dalam kaitannya dengan kaidah moral atau nilai-nilai hidup, maka dalam menetapkan objek penelaahan, kegiatan keilmuan tidak boleh melakukan upaya yang bersifat mengubah kodrat manusia, merendahkan martabat manusia, dan mencampuri permasalahan kehidupan.

2. Pendekatan Epistemologi

Epistemologis adalah cabang filsafat yang membahas tentang asal mula, sumber, metode, struktur dan validitas atau kebenaran pengetahuan. Dalam kaitannya dengan ilmu, landasan epistemologi mempertanyakan proses yang memungkikan dipelajarinya pengetahuan yang berupa ilmu.

Dalam kaitannya dengan moral atau nilai-nilai hidup manusia, dalam proses kegiatan keilmuan, setiap upaya ilmiah harus ditujukan untuk menemukan kebenaran, yang dilakukan dengan penuh kejujuran, tanpa mempunyai kepentingan langsung tertentu dan hak hidup yang berdasarkan kekuatan argumentasi secara individual. Jadi ilmu merupakan sikap hidup untuk mencintai kebenaran dan membenci kebohongan.

3. Pendekatan Aksiologi

Aksiologi adalah cabang filsafat yang mempelajari tentang nilai secara umum. Sebagai landasan ilmu, aksiologi mempertanyakan untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu dipergunakan. Pada dasarnya ilmu harus digunakan dan dimanfaatkan untuk kemaslahatan manusia.

Dalam hal ini ilmu dapat dimanfaatkan sebagai sarana atau alat dalam meningkatkan taraf hidup manusia dengan memperhatikan kodrat manusia, martabat manusia, dan kelestarian atau keseimbangan alam. Untuk itu ilmu yang diperoleh dan disusun dipergunakan secara komunal dan universal. Komunal berarti ilmu merupakan pengetahuan yang menjadi milik bersama, setiap orang berhak memanfaatkan ilmu menurut kebutuhannya. Universal berarti bahwa ilmu tidak mempunyai konotasi ras, ideologi, atau agama.

B. Etika keilmuan

Ilmu merupakan suatu cara berpikir tentang sesuatu objek yang khas dengan pendekatan tertentu sehingga menghasilkan suatu kesimpulan yang berupa pengetahuan ilmiah. Ilmiah dalam arti sistem dan struktur ilmu dapat dipertanggungjawabkan secara terbuka. Suatu keharusan bagi ilmuwan memiliki moral dan akhlak untuk membuat pengetahuan ilmiah menjadi pengetahuan yang didalamnya memiliki karakteristik kritis, rasional, logis, objektif, dan terbuka. Disamping itu, pengetahuan yang sudah dibangun harus memberikan kegunaan bagi kehidupan manusia, menjadi penyelamat manusia, serta senantiasa menjaga kelestarian dan keseimbangan alam. Di sinilah letak tanggung jawab ilmuwan untuk memiliki sikap ilmiah.

Para ilmuwan sebagai profesional di bidang keilmuan tentu perlu memiliki visi moral, yang dalam filsafat ilmu disebut sebagai sikap ilmiah, yaitu suatu sikap yang diarahkan untuk mencapai pengetahuan ilmiah yang bersifat objektif, yang bebas dari prasangka pribadi, dapat dipertanggungjawabkan secara sosial dan kepada Tuhan.

Adapun sikap ilmiah yang perlu dimiliki oleh para ilmuwan sedikitnya ada enam, yaitu:

1. Tiada rasa pamrih (disinterstedness), merupakan sikap yang diarahkan untuk mencapai pengetahuan ilmiah yang objektif dan menghilangkan pamrih.

2. Bersikap selektif, yaitu suatu sikap yang tujuannya agar para ilmuwan mampu mengadakan pemilihan terhadap segala sesuatu yang dihadapi.

3. Adanya rasa percaya yang layak baik terhadap kenyataan maupun terhadap alat-alat indera serta budi (mind).

4. Adanya sikap yang berdasar pada suatu kepercayaan (belief) dan dengan merasa pasti ( conviction) bahwa setiap pendapat atau teori yang terdahulu telah mencapai kepastian.

5. Adanya suatu kegiatan rutin bahwa ilmuwan harus selalu tidak puas terhadap penelitian yang telah dilakukan, sehingga selalu ada dorongan untuk riset. Dan riset atau penelitian merupakan aktifitas yang menonjol dalam hidupnya

6. Memiliki sikap etis (akhlak) yang selalu berkehendak untuk mengembangkan ilmu bagi kemajuan ilmu dan untuk kebahagiaan manusia

Secara terminologi, etika adalah cabang filsafat yang membicarakan tingkah laku atau perbuatan manusia dalam hubungannya dengan baik dan buruk. Yang dapat dinilai baik dan buruk adalah sikap manusia yang menyangkut perbuatan, tingkah laku, gerakan, kata dan sebagainya. Dalam etika ada yang disebut etika normatif, yaitu suatu pandangan yang memberikan penilaian baik dan buruk, yang harus dikerjakan dan yang tidak.

Penerapan dari ilmu membutuhkan dimensi etika sebagai pertimbangan dan yang mempunyai pengaruh pada proses perkembangannya lebih lanjut. Tanggung jawab etika menyangkut pada kegiatan dan penggunaan ilmu. Dalam hal ini pengembangan ilmu pengetahuan harus memperhatikan kodrat manusia, martabat manusia, keseimbangan ekosistem, bersifat universal dan sebagainya, karena pada dasarnya ilmu pengetahuan adalah untuk mengembangkan dan memperkokoh eksistensi manusia dan bukan untuk menghancurkannya. Penemuan baru dalam ilmu pengetahuan dapat mengubah suatu aturan alam maupun manusia. Hal ini menuntut tanggung jawab etika untuk selalu menjaga agar yang diwujudkan tersebut merupakan hasil yang terbaik bagi perkembangan ilmu dan juga eksistensi manusia secara utuh.

C. Tanggung jawab sosial ilmuan

Kita dapat menegaskan kembali bahwa tujuan sains ialah menemukan pengetahuan yang benar mengenai berbagai keadaan alam semesta. Tanggung jawab etis seorang ilmuan dapat mengupayakan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi secara tepat dalam kehidupan manusia. Tetapi harus menyadari juga apa yang seharusnya dikerjakan atau tidak dikerjakan untuk memperkokoh kedudukan serta martabat manusia yang seharusnya, baik dalam hubungannya sebagai pribadi, dalam hubungan dengan lingkungannya maupun sebagai makhluk yang bertanggung jawab terhadap Khaliknya.

Kesadaran etis ini memungkinkan manusia dapat memperhitungkan akibat perbuatannya bahkan dapat mengetahui perkembangan-perkembangan ataupun kejadian-kejadian yang tak terduga di masa depan. Tanggung jawab etis beserta kesadaran etisnya terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi akan dapat membimbing untuk menentukan dan memutuskan apakah keputusan tindakan manusia yang berupa ilmu pengetahuan, seharusnya dilakukan dan bagaimana “aturan main” yang diterapkan.

Tanggung jawab ilmu pengetahuan dan teknologi menyangkut juga tanggung jawab terhadap hal-hal yang akan dan telah diakibatkan ilmu pengetahuan serta teknologi di masa-masa lalu, sekarang maupun apa akibatnya bagi masa depan berdasarkan keputusan-keputusan bebas manusia dalam kegiatannya. Pene­muan baru dalam ilmu pengetahuan dan teknologi terbukti ada yang dapat mengubah suatu aturan, baik alam maupun manusia. Hal ini tentu saja menuntut tanggung jawab agar selalu menjaga apa yang diwujudkan dalam perubahan tersebut yang menjadi perubahan terbaik bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi itu sendiri maupun bagi perkembangan eksistensi manusia secara utuh.

Ilmuwan juga mempunyai kewajiban sosial untuk menyampaikan kepada masyarakat dalam bahasa yang mudah dicerna. Tanggung jawab sosial seorang ilmuwan adalah memberikan perspektif yang benar, untung dan rugi, baik dan buruknya, sehingga penyelesaian yang objektif dapat dimungkinkan.

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Dari uraian di atas, dapat kita simpulkan bahwa seorang ilmuan terikat pada etika dan tanggung jawab dalam menetapkan suatu ilmu baru. Peran terpenting seorang ilmuan adalah menyediakan bantuan agar manusia dapat sungguh-sungguh mencapai pengertian tentang martabat dirinya. Ilmu pengetahuan dan teknologi bukan saja sarana untuk mengem­bangkan diri manusia, tetapi juga merupakan hasil perkembangan dan kreativitas manusia itu sendiri.

Tanggung jawab seorang ilmuan menyangkut kegiatan maupun penggunaan ilmu pengetahuan dan teknologi di mana terjadi harus memperhatikan kodrat manusia, martabat manusia, menjaga keseimbangan ekosistem, bertanggung jawab pada kepentingan umum, kepentingan generasi mendatang, dan bersifat universal.

B. Saran

Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan demikian memerlukan visi moral yang tepat. Manusia dengan ilmu pengeta­huan dan teknologi akan mampu untuk berbuat apa saja yang diinginkannya, namun pertimbangan tidak hanya sampai pada apa yang dapat diperbuat olehnya tetapi perlu pertimbangan apakah memang harus diperbuat dan apa yang seharusnya diperbuat dalam kerangka kedewasaan manusia yang utuh.

Etika peranan seorang ilmuan sebagai pelopor munculnya disiplin-disiplin ilmu baru harus memikirkan pula tanggungjawab manusia dalam keputusan tindakannya. Pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dapat dilaksanakan secara mitologis-religius, filosofis maupun secara ilmiah teknologis. Oleh karena itu, ilmu pengetahuan dan teknologi secara ideal seharusnya berguna dalam dua hal, yaitu membuat manusia rendah hati karena memberikan kejelasan tentang jagad raya, dan mengingatkan bahwa kita masih bodoh dan masih banyak yang harus diketahui dan dipelajari.

DAFTAR PUSTAKA

Rachman, Maman. dkk. 2006. Fisafat Ilmu. Semarang: UPT MKU Unnes

Suriasumantri, Jujun S. 2007. Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar